Sanad dan Matan Hadits

SANAD DAN MATAN HADITS

Oleh : Abu Naufal Al-Bughury


PENDAHULUAN

Hadits merupakan sumber hukum kedua dalam islam setelah al-Qur’an. Karena itu, hadits memiliki posisi yang sangat strategis bagi kaum muslimin dalam memahami, meyakini dan melaksanakan ajaran-ajaran agama. Namun, tidak seperti al-Qur’an yang periwayatannya bersifat qoth’I (absolut), sebagian hadits diriwayatkan dengan redaksional yang berbeda. Sejak jaman rasulullah saw pun tidak semua hadits terdokumentasikan. Dan, hadits pun sempat menjadi alat propaganda dalam perselisihan politik ummat islam. Karenanya, ummat islam pun diingatkan untuk bersikap kritis dalam menerima suatu hadits.

Ulama-ulama islam telah mengembangkan metodologi untuk menguji dan mengkritisi hadits-hadits yang berkembang di masyarakat. Di antaranya adalah dengan metodologi kritik sanad dan matan. Dengan kedua metodologi ini, kita dapat menilai standar akseptabilitas dimana suatu hadits bias dikatakan shahih, hasan, dhoif, mutawatir, ahad, maqbul, mardud, dan sebagainya. Di dalam forum ini, kami akan sebisa mungkin menjelaskan pemahaman kami mengenai sanad dan matan.

SANAD

Dalam Kamus Al-Mufid, sanad berarti menyandarkan, menegakkan sesuatu dengan kokoh. Sementara secara terminologi, menurut para ahli hadits, sanad ialah jalan yang menyampaikan kepada isi hadits. Menurut Mudasir, dalam bukunya Ilmu Hadits, sanad ialah “menyandarkan hadis kepada orang yang menyatakannya”. Jelasnya, sanad adalah jalur/silsilah periwayatan sebuah hadits dari orang yang pertama kali menceritakannya hingga sumber utamanya, yaitu nabi Muhammad saw.  Contohnya:

 

Yang disebut sanad dalam hadits di atas adalah frasa yang berbunyi

 

Dalam meneliti hadits, para ulama hadits bersikap sangat teliti mencermati setiap sanadnya. Pada masa Abu bakar r.a. dan Umar r.a. periwayatan hadis diawasi secara hati-hati dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenarannya oleh seorang lain. Ali bin Abu Thalib tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkannya disumpah. Meminta seorang saksi kepada perawi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menguatkan hati dalam menerima yang berisikan itu. Yang diperlukan dalam menerima hadis adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang riwayatnya, maka perlu didatangkan saksi/keterangan. Kedudukan sanad dalam hadis sangat penting, karena hadis yang diperoleh/ diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadis dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadis yang sahih atau tidak, untuk diamalkan.

Sanad merupakan jalan yang mulia untuk menetapkan hukum-hukum Islam. Ada beberapa hadits dan atsar yang menerangkan keutamaan sanad, di antaranya yaitu: Diriwayatkan oleh muslim dari Ibnu Sirin, bahwa beliau berkata, “Ilmu ini (hadits ini), adalah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka.” Imam Syafi’i berkata, “Perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadits tanpa sanad, sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari.”

Perhatian terhadap sanad di masa sahabat yaitu dengan menghapal sanad-sanad itu dan mereka mempuyai daya ingat yang luar biasa. Dengan adanya perhatian mereka maka terpelihara sunnah Rasul dari tangan-tangan ahli bid’ah dan para pendusta. Karenanya pula imam-imam hadis berusaha pergi dan melawat ke berbagai kota untuk memperoleh sanad yang terdekat dengan Rasul.

Sebagai contoh, dapat disebutkan, untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota, menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Seperti ini lah antara lain Allah menjaga kelurusan dan kemurnian agama islam.

Salah satu jalur periwayatan hadits, bias dilihat berikut ini.

 


MATAN

Menurut Mudasir dalam bukunya Ilmu Hadits, kata matan menurut bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi). Sedangkan menurut istilah, matan adalah ujung sanad (qayah as sanad), dengan kata lain yang dimaksud matan ialah materi hadis atau lafal hadis itu sendiri. Contoh:

 

Matan dalam hadits ini adalah:

 

Ada dua jalan periwayatan isi hadits. Pertama, dengan kata-kata yang persis sama dengan apa yang diucapkan oleh rasulullah saw. Kedua, dengan menggunakan kata-kata yang disusun sendiri oleh sang periwayat, namun tidak mengubah makna yang disampaikan oleh rasulullah saw.

 

KLASIFIKASI HADITS

Berbagai pengorbanan telah dilakukan oleh para ahli hadits dalam meneliti hadits-hadits yang beredar di masyarakat. Penelitian ini untuk mengetahui validitas, faidah dan tingkatan hujjah suatu hadits. Mereka menyusun sejumlah klasifikasi hadits dengan beberapa tolak ukurnya, sehingga ummat islam dapat dengan mudah mengambil manfaatnya. Pada makalah ini, kami hanya akan menguraikan sebagian dari hasil klasifikasi para ahli hadits tersebut.

  1. A. Klasifikasi Hadits Menurut Kuantitas Perawi:
  • Hadits Mutawatir, yaitu suatu hadits tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak (4,5, 20 orang), tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.

 

Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu dharuri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.

 

Hadits mutawatir dapat diklasifikasikan lagi menjadi mutawatir lafzi (redaksionalnya sama, walaupun dari perawi yang berbeda), mutawatir ma’nawi (berlainan redaksionalnya tetapi maknanya sama). Contoh hadits mutawatir: “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas nama-ku, maka tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari dan Iain-lain). Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat dengan teks yang sama (bahkan menurut as-Suyuti, tidak kurang dari 200 sahabat yang meriwayatkannya).

  • Hadits Ahad, yaitu suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir. Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad masih perlu diselidiki sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir.

Contoh hadits ahad: Dari Amir al-Mukminin Abu Hafsh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena menaati Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh dua orang imam ahli hadits yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling sahih yang pernah disusun).

  1. B. Klasifikasi Hadits Berdasarkan Kualitas Sanad dan Matan
  • Hadits Shahih. Hadits Sahih adalah hadits yang susunan lafadznya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat Quran, hadits mutawatir, atau ijma’, serta para rawinya adil dan dhabit. Syarat-syarat hadits shahih: Rawinya bersifat adil, sempurna ingatannya, sanadnya tidak terputus, tidak ber ‘illat, tidak janggal. Mengenai matannya sebuah hadits dapat dikatakan shahih apabila: (1) Pengertian yang terkandung dalam matan tidak bertentangan dengan ayat Al-Quran atau hadits mutawatir walaupun keadaan rawinya sudah memenuhi syarat. (2) Pengertian dalam matan tidak bertentangan dengan pendapat yang disepakati (ijmak) ulama, atau tidak bertentangan dengan keterangan ilmiah yang kebenaranya dapat dipastikan secara sepakat oleh para ilmuwan. (3) Tidak ada kejanggalan lainya, jika dibandingkan dengan matan hadits yang lebih tinggi tingkatan dan kedudukannya.

 

Contoh hadits shahih: “Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im, dari bapaknya, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat At-Thur di waktu shalat maghrib” (HR. Bukhari, No 731). Hadist ini dikatakan sahih karena:

1.             Sanadnya sambung, sebab perawinya mendengar langsung dari gurunya.

2. Perawinya adil dan cermat, sebab disebutkan Abdullah bin Yusuf adalah seorang terpercaya dan cermat, Malik bin Anas adalah imam yang hafidz, Ibnu Syihab az-Zuhri adalah ahli fiqh hafidz, Muhammad bin Jubair adalah orang terpercaya, dan Jubair bin Muth’im adalah seorang sahabat.

3. Hadistnya tidaklah satu illat pun.

  • Hadits Hasan, yaitu hadits hasan menurut ibnu Hajar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, (tetapi) tidak begitu kuat daya ingatnya, bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. Jadi perbedaan antara hadis shahih dan hadits hasan ini terletak pada syarat kedlabitan rawi. Pada hadits hasan kedlabitannya lebih rendah (tidak begitu kuat ingatannya) jika dibandingkan hadits shahih. Tingkatan hadits hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadits shahih, tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hadits hasan sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang Aqidah, ada yang menolak hadits hasan sebagai hujjah ada yang menerimanya sebagai hujjah baik untuk bidang hukum maupun bidang Aqidah, pendapat inilah yang paling banyak dianut.

Contoh hadits hasan: Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)”. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan.)

  • Hadits Dhaif. Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan. Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.

Contoh hadits dhaif :“Rasulullah SAW melaknat wanita-wanita penziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai mesjid dan menerangkannya dengan lampu-lampu”.


PENUTUP

Dalam mempelajari Hadis Nabi SAW, seseorang harus mengetahui dua unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas Hadis tersebut, yaitu al-sanad dan al-matan. Kedua unsur Hadis tersebut begitu penting artinya dan antara yang satu dan yang lainnya saling berhubungan erat, sehingga apabila salah satunya tidak ada maka akan berpengaruh terhadap, dan bahkan dapat merusak, eksistensi dan kualitas dari suatu Hadis. Suatu berita yang tidak memiliki sanad, menurut ulama Hadis, tidak dapat disebut sebagai Hadis; dan kalaupun disebut juga dengan Hadis maka ia dinyatakan sebagai Hadis palsu (Mawdhu). Demikian juga halnya dengan matan, sebagai menentukan keberadaan sanad, karena tidak akan dapat suatu sanad atau rangkaian para perawi disebut sebagai Hadis apabila tidak ada matan atau materi Hadisnya, yang terdiri atas perkataan, perbuatan, atau ketetapan (taqrir)Rasul SAW.

Di dalam penilaian kualitas suatu Hadis, unsur sanad dan matan adalah sangat menentukan. Oleh karenanya, yang menjadi objek kajian dalam penelitian Hadis adalah kedua unsur tersebut, yaitu sanad dan matan.

Wallahul muwafiq ila aqwamit thariq

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.